Servitisasi membuat tren utama dalam industri yang berfokus pada produk di mana pemasok produk sekarang bergerak dari sekedar memasok produk ke mengadakan layanan. Anda melihat tren ini di banyak industri. Kontrak sewa serta sewa meningkat, layaknya halnya kontrak power by the hour dalam industri pesawat terbang, cloud membuat norma baru dalam memberikan pemecahan ti sebagai layanan serta dengan perangkat lunak sebagai layanan (saas)/model pemilihan harga sewa dengan kilat membuat normal baru.

Kebanyakan orang gak lagi membeli mobil. Kita melihat mobil sebagai layanan dengan uang bulanan serta disaat mobil tanpa pengemudi yang otonom lekas membuat kenyataan, kita hanya mau membayar layanan layaknya yang kita kerjakan dengan taksi. Menjadi, apakah konsep servitisasi ini yang digunakan dalam bisnis yang berfokus pada produk gak cocok bagi konstruksi?

Industri konstruksi mendirikan aset lingkungan gede, menjadi perlu ini mau menukar industri?

Jawabannya iya. Menjadi jikalau kita gak biasakan strategi bisnis kita, kita gak mau terletak dalam posisi bagi mengambil keuntungan dari dunia baru ini.

Apa yang sudah kita lihat di industri yang lainnya yaitu bahwa tren itu mulai pelan serta banyak orang yang sinis menganggapnya hanya tren sesaat. Kemudian, ia tiba-tiba mengumpulkan kecepatan serta membuat norma baru dengan amat kilat. Saya berharap hal yang sama mau terjalin di industri konstruksi.

Berharap bagi melihat yang tidak terduga. Perusahaan baru merambah pasar dengan cara kerja inovatif yang baru, terlebih lagi mungkin perusahaan layaknya amazon ataupun google.

Makin banyak, pemilik aset mencari bagi mengaplikasikan outsourcing layanan yang diperlukan bagi mempertahankan aset mereka sepanjang siklus hidup mereka. Kontrak manajemen layanan ataupun fasilitas kerap ditawarkan oleh perusahaan konstruksi bagi aset yang sudah mereka bangun ataupun bagi aset yang sudah dibentuk oleh kontraktor yang lainnya. Kontrak komersial berbasis layanan ini sudah berkembang dari waktu ke waktu, biasanya berdasarkan, semisal, ketersediaan aset ataupun waktu respons. Ada kecenderungan ke arah mengontrak bagi hasil dengan perusahaan konstruksi yang mendirikan ini. Kontrak berbasis kinerja ini menukar model bisnis yang digunakan perusahaan konstruksi bagi mendekati pasar.

Disaat berdialog tentang bangunan, istilah manajemen fasilitas biasanya digunakan sekarang. Kontrak yaitu tentang menjadi fasilitas ada. Kontrak 5 sampai sepuluh tahun biasanya diserahkan terhadap perusahaan konstruksi bagi mendirikan serta memelihara aset. Sebagai bagian dari kontrak, mereka mungkin juga memiliki ruang bagi mendirikan kembali, memperbarui ataupun mendirikan aset baru. Ini tentang layanan sebanyak konstruksi per se; menjadi amat banyak hal yang sama dengan servisasi di zona manufaktur.

Salah satu pendorong gede yang lain yang mau membantu mempercepat tren ini yaitu gimana perusahaan dihargai. Perusahaan konstruksi tradisional yang bergantung pada proyek modal yang gede serta padat mau memiliki penilaian yang lebih rendah daripada perusahaan dengan kontrak jangka panjang berbasis layanan penyewaan alat seperti vibrator exen konstan .